Halo sobat MeRLove! Pernah nggak sih kamu cuma niat cek sebentar media sosial, tapi tahu-tahu sudah satu jam berlalu? Atau tiba-tiba merasa gelisah karena belum lihat update terbaru dari teman-teman? Nah… kalau pernah, bisa jadi kamu sedang mengalami yang namanya FoMO.
Di era digital seperti sekarang, media sosial memang sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Tapi tanpa disadari, kebiasaan scroll terus-menerus bisa memicu rasa cemas dan membuat kita sulit merasa cukup. Yuk, kita bahas lebih dalam!
Definisi FoMO atau Fear of Missing Out
Sebelum lanjut lebih jauh, kalian pernah nggak sih bertanya… sebenarnya FoMO itu apa sih?
FoMO (Fear of Missing Out) adalah perasaan takut tertinggal momen, informasi, atau pengalaman yang sedang dialami orang lain. Kondisi ini membuat seseorang merasa harus selalu terhubung dengan dunia luar, terutama melalui media sosial. Pada generasi digital, FoMO muncul lebih sering karena akses informasi yang sangat cepat, notifikasi yang terus muncul, dan kebiasaan untuk selalu online. Akibatnya, seseorang merasa harus terus mengikuti perkembangan agar tidak ketinggalan tren atau kabar terbaru.
Peran Media Sosial dalam Memicu FoMO
Sekarang pertanyaannya… kenapa sih media sosial bisa bikin FOMO makin parah?
Media sosial sering menampilkan sisi terbaik dari kehidupan seseorang, seperti liburan, pencapaian, dan gaya hidup yang terlihat sempurna. Padahal, apa yang ditampilkan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Hal ini dapat memicu perasaan iri, perbandingan sosial, dan dorongan untuk terus melihat apa yang dilakukan orang lain. Penggunaan media sosial yang tinggi berkaitan dengan meningkatnya FoMO, karena individu menjadi lebih sering mengecek media sosial, merasa harus selalu update, dan cemas saat tidak dapat mengakses internet.
Dampak FoMO terhadap Kesehatan Mental
Nah, ini bagian penting. FoMO bukan cuma bikin “kepo”, tapi bisa berdampak serius. Beberapa dampak FoMO antara lain:
- Meningkatkan kecemasan dan stress
- Menurunkan kepercayaan diri
- Meningkatkan risiko kecanduan media social
- Menurunkan kualitas interaksi sosial di dunia nyata
- Rentan terhadap cyberbullying
Ketika seseorang terus merasa tertinggal, ia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain dan sulit merasa puas dengan kehidupannya sendiri. Akibatnya, muncul overthinking, rasa tidak cukup, dan hilangnya fokus pada kehidupan nyata.
Perilaku dan Tanda-tanda FoMO pada Generasi Digital
Coba cek diri kamu… ada nggak tanda-tanda ini?
- Sering mengecek media sosial tanpa alasan jelas
- Tidak tenang kalau belum lihat update terbaru
- Takut ketinggalan tren atau kabar teman
- Sering membandingkan hidup sendiri dengan orang lain
- Merasa hidup sendiri kurang menarik dibanding yang ada di media social
Pada generasi digital, FoMO juga dipengaruhi oleh tekanan sosial, budaya flexing, serta kebutuhan akan validasi melalui likes, views, dan komentar. Pada Generasi Z, FoMO dapat terlihat dari kebiasaan mengikuti tren bukan karena kebutuhan, tetapi karena takut dianggap tertinggal atau tidak nyambung dengan lingkungan.
Strategi Mengatasi FoMO dan Menjaga Kesehatan Mental
Kabar baiknya, FoMO bisa dikendalikan. Jadi bukan berarti kita harus putus total dari media sosial lalu pindah ke gua. Yang penting adalah cara menggunakannya dengan lebih sehat. Beberapa strategi yang bisa dilakukan adalah:
- Membatasi waktu scroll media sosial,
- Mematikan notifikasi yang tidak penting,
- Mengurangi kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain,
- Memperbanyak aktivitas offline,
- Melatih kontrol diri dan rasa cukup
Langkah-langkah ini penting untuk membantu seseorang kembali fokus pada kehidupan nyata. Selain itu, dukungan keluarga, sekolah, dan lingkungan juga berperan penting dalam menjaga kesehatan mental remaja dan Generasi Z.
FoMO adalah fenomena yang sangat dekat dengan kehidupan Generasi Z. Kebiasaan scroll tanpa henti bisa membuat seseorang merasa cemas, tidak cukup, dan terus membandingkan diri dengan orang lain.
Oleh karena itu, penting untuk menggunakan media sosial secara bijak dan menjaga keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Kesehatan Mental Itu Penting, Sobat MeRLove!
Kadang, kita terlalu sibuk mengejar update terbaru,
sampai lupa bahwa yang kita butuhkan sebenarnya adalah istirahat.
Jadi, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, meletakkan ponsel, dan kembali terhubung dengan diri sendiri. Karena pada akhirnya, ketenangan bukan datang dari apa yang kita lihat di layar, melainkan dari bagaimana kita merawat diri kita sendiri.
Sumber:
- Kusumaisna, K., & Satwika, Y. W. (2023). Hubungan intensitas penggunaan media sosial dengan FoMO pada dewasa awal. Character: Jurnal Penelitian Psikologi, 10(2), 749–764.
- Jannah, S. N. F., & Rosyiidiani, T. S. (2022). Gejala FoMO dan adiksi media sosial remaja putri di era Covid-19. Jurnal Paradigma, 3(1), 1–14.
- Komala, K., Rafiyah, I., & Witdiawati. (2022). Gambaran FoMO pada mahasiswa keperawatan. JNC, 5(1), 1–11.
- Fitri, H., Hariyono, D. S., & Arpandy, G. A. (2024). Pengaruh self-esteem terhadap FoMO pada generasi Z. Jurnal Psikologi, 1(4), 1–21.
- Afiyah, S. N., et al. (2025). Fenomena FoMO dan dampaknya terhadap kesehatan mental remaja. Khazanah, 17(2).
